Minggu, 17 Maret 2013

Serenade 1



nada-nada dari serulingku
mengalun dalam hening meniti angin
berpadu dengan denting suara alam
dan mazmur malam.

nyanyian hati ini untuk-Mu, Tuhan,
Engkau tambatan yang teguh,
tempat istirahat yang teduh,
peganganku.


Selasa, 25 Desember 2012

Keindahan Pelangi

        Kita semua mengenal pelangi dan pasti mengagumi keindahannya. Fenomena ini dijelaskan oleh para ahli Fisika sebagai berikut. Cahaya matahari adalah cahaya polikromatik. Warna putih cahaya matahari sebenarnya merupakan gabungan dari berbagai cahaya dengan panjang gelombang yang berbeda-beda, termasuk di antaranya tujuh warna yang dapat dicerap oleh mata kita: merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila, dan ungu. Pelangi terbentuk jika terjadi perubahan cuaca di mana hujan turun tetapi di langit masih ada cahaya matahari. Fenomena ini terjadi karena sinar matahari dibiaskan oleh tetesan air yang ada di atmosfer. Ketika sinar matahari melalui tetesan air, cahaya tersebut dibiaskan sedemikian sehingga warna-warna yang ada pada cahaya tersebut terpisah, dan menampilkan deretan warna yang diawali oleh warna merah dan diakhiri warna ungu. Fenomena inilah yang kita lihat sebagai pelangi.


Keindahan pelangi biasanya lebih jelas bila terjadi di pagi maupun sore hari saat sudut antara matahari dan bumi masih rendah. Keindahannya ternyata dipengaruhi juga oleh posisi pengamat. Jika pengamat berada dalam posisi membelakangi cahaya matahari dan mengamati pelangi dengan latar belakang awan mendung, warnanya akan tampak lebih jelas dan tegas. 


Fenomena alam ini begitu menakjubkan sehingga ada berbagai mitos tentangnya. Mitologi Yunani  mengatakan bahwa pelangi adalah jalan menuju surga yang dilalui oleh Dewa Iris, yaitu Dewa Pembawa Pesan. Dalam mitologi Cina dikatakan bahwa pelangi merupakan lukisan yang dibuat oleh Dewi Nuwa dengan menggunakan batu lima warna. Sedangkan mitologi India menyatakan bahwa pelangi merupakan busur panah Sang Rama yang merupakan reinkarnasi Wisnu.


Adakah makna yang bisa kita petik dari fenomena pelangi? Pelangi terbentuk justru ketika terjadi perubahan dari langit  yang serba cerah menjadi hujan rintik-rintik, ketika matahari akan bersembunyi di balik awan dan membiarkan bumi sejenak menikmati turunnya hujan. Ternyata, ada keindahan yang  dibawa oleh perubahan dari keadaan yang serba cerah menjadi mendung. Keindahan ini tidak langsung tertangkap oleh penglihatan kita, namun perlu usaha untuk mengetahuinya, paling tidak dengan mendongakkan kepala ke langit. 


Demikian pula dalam kehidupan. Bila kehidupan yang stabil tiba-tiba berubah, dan terjadi sesuatu yang membuat hidup kita terasa suram bagaikan hujan, tetap ada berkat yang tersembunyi di balik peristiwa itu. Sebuah  blessing in disguise, yang tidak langsung bisa kita temukan, namun perlu kita singkapkan. Paling tidak dengan cara menyerahkan hidup kita kepada Tuhan agar Ia menuntun kita untuk menemukannya. Atau dengan merefleksikan pengalaman itu dengan memandangnya, seperti ketika kita memandang ke langit dan menatap pelangi dengan latar belakang awan mendung. Hanya memandang saja, dengan pikiran positif bahwa ada keindahan di balik hujan yang tiba-tiba turun tadi.


Fenomena pelangi juga mengajarkan bahwa ada keindahan dalam perpisahan, dalam proses “melepas”. Lihatlah awan yang meretas butiran air untuk menjadi hujan, dan langit yang melepaskan matahari -yang sesaat sebelumnya masih menyinari bumi-. Apa hasil dari keseluruhan proses melepas itu? Keindahan warna-warni pelangi, yang tidak mungkin terjadi bila awan tetap menahan butiran air itu, sebab ia akan menjadi awan kumulonimbus yang padat menjulang dan membawa badai petir di dalamnya. Keindahan pelangi juga ternyata lebih nyata di sore hari, saat langit melepas matahari untuk terbenam. 


Dari peristiwa itu kita belajar bahwa perpisahan dan proses melepas membawa keindahan tersendiri, yang tidak mungkin terjadi saat kita menggenggam erat apa-apa yang ingin kita ikat, dan ternyata malahan mengikat diri kita sendiri. Sebuah kenangan akan masa lalu – entah itu kenangan indah ataupun menyakitkan-, atau seseorang pribadi, bila kita relakan dan kita lepaskan dari diri kita, ternyata akan terasa lebih indah dan bermakna. Maka lepaskanlah pasangan kita dan anggota keluarga lainnya dari keharusan untuk memenuhi harapan-harapan kita, syarat-syarat kita, agar mereka menjadi indah sebagai dirinya sendiri. Seperti kata peribahasa “keberadaannya lebih bermakna ketika kita tidak memilikinya”. 

Keindahan itu ada dalam cara pandang kita dan ada dalam jangkauan kita. Kita dapat membebaskan diri segala ikatan yang mengikat kita sendiri: segala kenangan, pribadi-pribadi, materi, dan lain-lain. Lepaskan, dan kita tidak akan pernah kehilangan semua itu, sebab kita akan melihat bias keindahan yang ditimbulkannya. Seperti awan meretas hujan yang tak pernah dimikilinya, seperti langit melepas matahari yang bukan kepunyaannya, dan akhirnya menghasilkan bias indah warna pelangi. 

DH. Des 2012

Kamis, 29 November 2012

Mazmur Malam



Sudah malam
kulepaskan kata
membumbung ke cakrawala
ke mana ....
untuk damai dan teduh?
Di langit di antara bintang
ada malaikat menyanyi
dan, Engkau-kah itu
yang menatap diam-diam mengulurkan tangan?

Tengah malam
kupanjatkan doa
dan bersujud dalam hening tenang ....
ah, Engkau-kah itu
yang turun bersama embun
menari bersama angin?


Lewat malam,
kutengadahkan jiwa ....
 
Di langit bintang-bintang mulai mengantuk
dan aku adalah kunang-kunang
kecil berpendar
Kau tebar untuk berkelip di kegelapan
sebelum lelap di kedamaian-Mu.



DH

Senin, 22 Oktober 2012

Segelas juice, sebuah harmoni.



Jeruk sunkist dan buah pir adalah dua jenis buah yang sangat berbeda, baik bentuk maupun rasanya. Maka, secara sepintas bisa kita katakan bahwa keduanya tidak bisa disatukan. Hal ini benar dari sudut pandang penjual buah. Bila kita membeli sejumlah jeruk sunkist dan buah pir, maka penjual akan menimbang setiap jenis secara terpisah, tidak mungkin disatukan, sebab harganyapun berbeda. Tetapi, di tangan seorang ibu atau seorang pecinta kuliner, jeruk dan buah pir dapat disatukan dalam sebuah minuman bernama “Juice sunkist-buah pir”.
Sudah pernah mencoba juice sunkist-buah pir? Ini adalah salah satu juice favorit keluarga kami, yang membuat anakku menyarankan agar aku membuka counter jualan juice di sekolahnya! Rasanya menyegarkan, dan warnanya  menarik. Dan walaupun dalam segelas juice itu kita tidak bisa memilah-milah lagi yang mana jeruk dan yang mana buah pir, namun  kita bisa tetap merasakan dengan jelas rasa jeruknya dan rasa buah pirnya. Dari segelas juice itu kita bisa sekaligus memperoleh manfaat jeruk yang kaya vitamin C dan manfaat buah pir yang mengandung serat serta zat yang bermanfaat bagi penderita batuk.
Apa yang membuat campuran sunkist dan buah pir itu menjadi segar dan enak? Pertama-tama, tentu saja karena setiap buah menyumbangkan rasa dan keharumannya yang khas. Kedua, berkat keterampilan pembuatnya yang mencampur kedua macam buah itu dalam proporsi yang tepat. Ketiga karena diolah dengan sepenuh hati,  dengan kasih dan senang hati. Cobalah anda membuat segelas juice dengan hati senang dan tulus, pasti rasanya enak. Lalu bandingkan hasilnya bila anda membuatnya dengan setengah hati, terburu-buru dan terpaksa. Akan terasa bedanya. Terakhir, karena terbuat dari jeruk sunkist dan buah pir pilihan, dengan madu sebagai pemanis, ditambah doa agar yang meminumnya sehat dan mendapat berkat Tuhan.
Kearifan apa yang bisa kita petik dari segelas juice sunkist-buah pir? Keselarasan. Harmoni. Walaupun berbeda, namun tidak harus saling menonjolkan perbedaan. Tak harus saling mengedepankan ego, namun justru bekerjasama dalam harmoni untuk memunculkan warna baru, rasa baru, karya bersama yang diperkaya oleh keunikan masing-masing pribadi, dengan menjalankan peran dalam proporsinya masing-masing. Maka, menjadi berbeda tak harus bermusuhan, tak harus berseberangan, tak harus mempertajam kekurangan pihak lain. Di sisi lain, harmoni dan kerjasama tak perlu meniadakan ciri khas dan kepribadian kita, sebab justru keunikan masing-masing kita itulah yang akan mendorong pembaharuan. Dengan berbagai perbedaan, kita dapat tetap bergandengan tangan, untuk mencapai tujuan bersama dalam keindahan rasa yang tidak bisa diwujudkan sendirian. 

Dimuat dalam Forkom FK Maranatha No.7/Okt/2012

Jumat, 21 September 2012

Ketika kegelapan datang

Matahari yang tenggelam di cakrawala
tak hendak berpamitan kepada langit dan awan
saat undur diri di malam hari.
Ia hanya memberi ruang dan waktu bagi kegelapan untuk bertahta
agar kita belajar mengarunginya dengan keteguhan
dan percaya bahwa esok selalu ada pagi.

Kegelapan yang pekat
tak pernah membuat bumi berhenti berputar.
Ia hanya memberi kita ruang dan waktu
untuk belajar menyelaminya dengan keberanian
dan menyingkap rahasia yang disimpannya.

Belajar memandang di kegelapan .........

percaya bahwa kekelaman tak pernah dapat menyempurnakan diri
sebab justru hanya di ketinggiannyalah dapat kita temukan Bintang
yang berkelip dari keabadian
dan selalu ada bagi kita
sepanjang masa.

Dedeh S. 2012
(Dimuat dalam Buletin KDKJB Maret 2012)

 

Rabu, 29 Agustus 2012

Matahari terbit atau matahari terbenam?


Pagi tentu saja dimulai ketika matahari terbit, langit mulai terang dan segala tampak berwarna cerah. Momen terbitnya matahari begitu indah sehingga seluruh alam ikut bernyanyi menyambutnya: burung mulai berkicau dan ayam berkokok merdu. Kitapun menyambut terbitnya matahari dengan gembira, dengan kelegaan dan penuh syukur kepada Tuhan, sebab aku masih boleh mengalami hari ini.......  


Kini, mari kita lihat foto di atas. Sebuah momen yang indah, bukan? Dengan sekali pandang, bisakah kita tahu, apakah ini foto matahari terbit atau matahari terbenam? Kelihatannya sulit untuk menebak, kecuali bila kita mengalami sendiri momen yang ditangkap dalam foto tersebut. Dan, bila kita sendiri mengalami momen tersebut, kesan ataupun kesimpulan akhirnya hanya bisa kita ambil bila kita mengalami juga momen sebelum dan sesudahnya. Bila momen itu didahului suatu sore dan berakhir dengan kegelapan, itulah matahari terbenam. Bila didahului kegelapan dini hari dan diakhiri dengan terang, itulah matahari terbit.

Momen yang tergambar dalam foto tadi bisa dipandang dan dimaknai secara berbeda, dan hanya dapat kita tangkap maknanya bila kita alami secara penuh. Demikian juga hidup. Suatu peristiwa hidup hanya dapat dimaknai bila kita tempatkan dalam keseluruhan sejarah kita. Maka, bila kita mengalami suatu penderitaan dan kesulitan, seberat apapun kesukaran itu, janganlah menyerah. Teruslah berjalan, dan temukan apa yang ada setelah momen itu berlalu. Bila momen itu adalah “matahari terbenam” dan kita merasakan “malam gelap” dalam hidup kita, masuklah dalam kegelapan itu dengan keyakinan bahwa esok selalu ada pagi. Temukan kekayaan yang tersimpan dalam malam gelap: keheningan, keindahan bulan, bintang atau nyanyian binatang malam. Jalanilah saat-saat kegelapan dengan penuh harapan, sebab besok matahari akan selalu terbit.

DH Agt 2012
(dimuat dalam Berita Kita Pandu edisi November 2012)

Senin, 27 Agustus 2012

Nyanyian Pagi


Selamat pagi, Tuhan
dalam bening langit dini hari
aku bersujud di hadirat-Mu.
Kurasa angin masih dingin menusuk kalbu
saat kesadaran kembali menerpa :
siapakah aku ini sehingga Engkau menganugerahkan Hidup bagiku ?

Selamat pagi, Tuhan
terimakasih atas satu hari lagi dalam hidupku.
Di keheningan yang tak berbatas
kupersembahkan segala kerapuhanku kepada-Mu,
berilah aku rahmat kerendahan hati
untuk memulai hari ini dan menemukan kedalaman maknanya.
Bersabdalah ya Tuhan, hamba-Mu mendengarkan.
Mei 2011