#pentigraf
Ada jenasah berkalang tanah. Di jurang, tanpa busana, teraniaya oleh
empat belas laki-laki. Duh! Hujan menutupi bukit, lembah dan pepohonan
dari pagi sampai petang, dari magrib sampai subuh. Tanah dan kabut
membungkusnya hati-hati. Seorang perempuan, yang berkodrat
melahirkan kehidupan, telah dicuri (lagi) oleh kematian.
Perempuan di dasar
jurang, jangan menyerah pada kuasa maut, meski dirimu adalah korban. Sebab
mereka yang di sana bukanlah sekadar laki-laki, melainkan kejahatan, yang
mencari korban untuk dipersalahkan. Sedangkan dirimu tak dapat bertanya, mengapa menjadi korban. Sebab merekalah gelap, yang datang
entah darimana, dan entah untuk apa.
Di tepi jurang jeritan bergema. Ada yang
memerkosa kehidupan dan membenamkannya dalam gelap. Kita tak bisa lagi menangis ataupun mengutuki gelap, kalau lilin ini padam dan korek api tak bisa lagi
menyala. Angin kencang sekali, membawa bau-bauan sigung dan suara
kematian. Mari merapatkan kebaikan. Hidupkan hati dan cinta. Nyalakan terang untuk jenasah perempuan di jurang, untuk
setiap kehidupan yang dicuri, untuk setiap derita yang ditelan sunyi. Nyalakan perlawanan terhadap kejahatan.
catatan kecil
hanya catatan kecil saja dari hal-hal sehari-hari yang sederhana.
Kamis, 05 Mei 2016
Sabtu, 16 Januari 2016
Ada yang salah di sini
Ku seka mataku yang
basah untuk kesekian kali
memandang Sarinah yang
kemarin diserang bom dan tembakan.
Permukaan jalan masih
bernoda darah mengerak
tidak terhapuskan oleh hujan semalam.
Ada yang salah di sini
entah diriku yang
terlalu cengeng
atau orang-orang yang berfoto
selfie di belakang peta tubuh korban ledakan
dan memasang status “kami
tidak takut”.
Ku seka mataku yang
basah lagi
di depan abang sate
dan pedagang asongan
yang kemarin tetap
berjualan di tengah serangan orang-orang jahat.
Tidak bisa lagi
membedakan harumnya sate
dan bau mesiu bercampur
korban yang hangus.
Ada yang salah di sini
dalam diri kita yang
sudah terlalu banyak menyaksikan kekerasan, mengalami kejahatan,
sehingga kita tidak bisa lagi membedakan takut dan berani, berani dan sedih,
sehingga ada satu-dua
orang yang hidupnya dihancurkan ketakutan sejak lama
sebelum mereka
meledakkan dirinya untuk kesia-siaan.
Mataku basah terus
sedari kemarin
di antara
butiran-butiran doa yang bergulir satu
persatu
buat bangsa kita.
Seandainya kita mau lebih
banyak mengasihi
dan lebih banyak
membawa damai.
Dedeh Supantini. 15 Januari 2016
Rabu, 14 Januari 2015
Sukacita adalah sebuah pilihan
Seorang kakek mendaftar untuk masuk ke panti wreda. Pengurus panti mengatakan kepada kakek tersebut, "Wah, tempat yang tersedia tinggal satu ruangan yang paling kecil di bagian paling belakang rumah ini. Kakek boleh melihatnya dulu sebelum memutuskan apakah kakek akan masuk ke sini atau mencari tempat lain". Kakek itu langsung menjawab: "Aku mengambil kamar tersebut. Aku menyukainya". Pengurus panti tersebut merasa bingung mendengar jawaban kakek dan ia bertanya dengan heran "Bagaimana kakek bisa menyukainya, bukankah kakek belum melihatnya?" Kakek itu tersenyum dan berkata "Memang aku belum melihatnya, tapi aku memutuskan untuk menyukainya bagaimanapun kondisi ruangan itu. Aku akan tinggal dengan sukacita di sini, sebab Tuhan selalu mendampingi di manapun aku berada".
Sukacita adalah sebuah pilihan yang diputuskan di awal. Kita bisa memutuskan untuk bersukacita dalam keadaan apapun, bila sukacita kita berasal dari Allah, sebab kasih Allah mengatasi segala kesulitan kita.
14 Jan 2015. From Dedeh S with :)
Sukacita adalah sebuah pilihan yang diputuskan di awal. Kita bisa memutuskan untuk bersukacita dalam keadaan apapun, bila sukacita kita berasal dari Allah, sebab kasih Allah mengatasi segala kesulitan kita.
14 Jan 2015. From Dedeh S with :)
Selasa, 23 Desember 2014
Ibu
Pertama: mama. Kami memanggil ibu kami
dengan panggilan mama. Mama seorang pencerita yang handal. Waktu kami masih
kecil, mama selalu bercerita sebelum kami tidur. Mulai dari dongeng kesukaan
beliau sendiri tentang dongeng Cina kuno seperti legenda ular putih-ular hijau
dan Sun Go Kong, sampai cerita bawang merah-bawang putih, Sangkuriang dan
cerita rakyat Indonesia lainnya. Yang paling ku suka adalah cerita perjuangan masa
kecilnya di jaman penjajahan Jepang dan perang kemerdekaan, sebab terdengar
seru bagi seorang anak yang tidak paham apa arti kata “perang” dan “menderita
dalam pengungsian”. Mama selalu menyisipkan pesan-pesan kearifan di akhir setiap
ceritanya. Setelah aku memasuki masa remaja, mama lebih banyak bercerita saat
menjemput kami pulang sekolah, mengisahkan perjuangan orang-orang di sekitarnya,
dengan segala keberhasilan dan kegagalan mereka, juga beberapa cerita
perjuangan mama sendiri dalam memahami dan memaafkan siapapun yang bersalah
kepadanya.
Mama bukan seorang perawat atau
dokter, namun beliau sangat cekatan memberi pertolongan pada karyawan papa yang
terluka akibat kecelakaan kerja: mulai dari yang luka teriris pisau, sampai
yang jarinya terpotong mesin. Aku kagum dengan ketenangannya saat memberi
pertolongan pertama dan melarikan mereka ke Rumah Sakit. Ketika aku terkena
musibah dan terluka, mama juga yang setiap malam mengoleskan obat untuk
menyembuhkan luka-lukaku.
Dengan semua hal yang telah
dilakukannya, mama selalu bernama cinta kasih. Melalui mama-lah aku
pertama-tama mengalami cinta kasih Tuhan dan memahami indahnya memaafkan.
Kedua: mami. Suamiku memanggil ibunya
dengan panggilan mami. Aku menyebutnya mami. Jarang aku menyebut beliau sebagai
“mami mertuaku” ... sampai suatu saat ketika beliau dirawat di Rumah Sakit dan
aku hendak menjenguknya, aku bertemu dengan seorang teman yang bertanya “Siapa
yang sakit?” dan langsung kujawab “mamiku” ... lalu ternyata sorenya beberapa
orang menelponku menanyakan: sakit apakah mama, ibu kandungku. Sejak itu aku
merasa perlu menjelaskan “mamiku, mertuaku”.
Mami seorang pencerita yang handal
juga. Mami selalu bercerita dengan gayanya yang lucu dan polos. Kami bisa
tertawa terbahak-bahak mendengar ceritanya, sebab beliau kadang mengakhiri
ceritanya dengan menertawakan diri sendiri dan tawa terbahak-bahak. Kadang-kadang
mami bercerita dengan mata berkaca-kaca juga, saat mengisahkan jatuh bangun dan
perjuangan hidup keluarganya. Kata akhir dalam setiap ceritanya selalu berbunyi
“Tuhan baik sekali”. Salah satu hal yang senang beliau ceritakan adalah kisah anak-anaknya yang begitu dibanggakan. Sekali-sekali,
baik kepada teman lama atau kenalan baru, beliau menceritakan rahasia kecil kami bahwa aku dan
suamiku saling jatuh cinta di masa ABG, dan akhirnya dipersatukan oleh Tuhan
setelah kami dewasa. Dan aku selalu tersipu-sipu dan terharu ketika
membayangkan bahwa mami sudah mengenalku sebelum kami bertemu, dan bahwa aku
sudah mengasihi mami sebelum kami bertemu juga, yaitu saat aku dalam perjuangan
menghadapi kesukaran dan beliau menitipkan kalimat yang membesarkan hatiku
“inti hidup kita adalah untuk dikasihi Tuhan”.
Dengan semua yang telah dilakukannya,
(almarhum) mami selalu kukenang sebagai cinta yang membawa kabar sukacita bahwa
“Tuhan mengasihi kita”.
Selalu: aku sendiri masih belajar menjadi ibu. Dari mama aku belajar untuk sabar dan tekun, belajar merefleksikan dan memaknai kisah-kisah hidup, lalu memetik kearifan dari setiap peristiwa. Aku juga belajar untuk memaafkan dan mengerti pentingnya menyembuhkan luka-luka. Dari mami aku belajar untuk menertawakan kelucuan dari kegagalanku, dan menghadapi setiap kesukaran sebagai saat untuk memahami bahwa “Tuhan mengasihi kita”. Tetapi aku belajar banyak dari anak-anakku untuk menjadi seorang ibu bagi mereka. Sampai sekarang dan seterusnya aku masih belajar ... semoga aku bisa menjadi seorang ibu yang bernama cinta kasih, dan menjadi seorang ibu yang menginspirasi seperti mama dan mami.
Selalu: aku sendiri masih belajar menjadi ibu. Dari mama aku belajar untuk sabar dan tekun, belajar merefleksikan dan memaknai kisah-kisah hidup, lalu memetik kearifan dari setiap peristiwa. Aku juga belajar untuk memaafkan dan mengerti pentingnya menyembuhkan luka-luka. Dari mami aku belajar untuk menertawakan kelucuan dari kegagalanku, dan menghadapi setiap kesukaran sebagai saat untuk memahami bahwa “Tuhan mengasihi kita”. Tetapi aku belajar banyak dari anak-anakku untuk menjadi seorang ibu bagi mereka. Sampai sekarang dan seterusnya aku masih belajar ... semoga aku bisa menjadi seorang ibu yang bernama cinta kasih, dan menjadi seorang ibu yang menginspirasi seperti mama dan mami.
Selamat hari ibu, mama dan mami, I love you.
DH.22 Des 2014
Selasa, 25 November 2014
Hanya rindu
Di
penghujung musim ini
kudengar
suara-Mu memanggil hatiku begitu kuat,
entah
ke mana hendak Kau pinta.
Sudah
kulacak jejak-Mu di tiap jalan setapak dan penjuru angin
dengan
keraguan seorang pengembara yang mencari arah,
membaca
setiap petunjuk
yang
ternyata membawa kembali
ke
tempat awal di mana kuterima perjalanan ini.
Hampir
menyerah, aku berbaring di hamparan rumput hijau
yang sedang musim berbunga,
di
antara harum bunga kecubung
yang
semilir
menghapuskan
aroma kegalauan yang disisakan malam
“ke
mana aku Kau bawa, Tuhan?
aku
sedikit gamang, tak bisa menangkap arah yang harus kutuju”
(...
ini aku, Tuhan ...)
Pagi masih muda
ketika
tiba-tiba saja Engkau menyapaku
di
bawah pohon besar yang lengannya hampir menyentuh awan
sedang
sinar matahari menghangatkan diriku yang berselimut embun pagi
Engkau
berbisik lewat hembusan angin yang memelukku dari segala penjuru,
“datanglah
kepada-Ku”
Lalu kupandang
Dikau dalam bunga-bunga rumput
yang
mengalasi dan menopang diriku begitu lembut begitu kuat
dan
kubertanya entah untuk kesekian kali
“Tuhan,
apa yang Kau kehendaki untuk aku lakukan dengan perjalanan ini?”
Di
tepi kolam pagi itu
Engkau
menjawab lewat terpaan bunga rumput yang membelai wajahku
“beristirahatlah
pada-Ku”.
Sedang
hatiku masih bertanya,
di
langit bersih berwarna biru muda
seekor
burung kecil melintas sambil berkicau riang,
dan
aku luruh
ketika
Engkau memanggilku lagi dalam segala keindahan pagi
“kemarilah,
beristirahatlah pada-Ku. Aku hanya rindu”.
Langganan:
Komentar (Atom)
