Kamis, 05 Mei 2016

Nyala untuk jenasah perempuan di jurang

#‎pentigraf‬


Ada jenasah berkalang tanah. Di jurang, tanpa busana, teraniaya oleh empat belas laki-laki. Duh! Hujan menutupi bukit, lembah dan pepohonan dari pagi sampai petang, dari magrib sampai subuh. Tanah dan kabut membungkusnya hati-hati. Seorang perempuan, yang berkodrat melahirkan kehidupan, telah dicuri (lagi) oleh kematian.

Perempuan di dasar jurang, jangan menyerah pada kuasa maut, meski dirimu adalah korban. Sebab mereka yang di sana bukanlah sekadar laki-laki, melainkan kejahatan, yang mencari korban untuk dipersalahkan. Sedangkan dirimu tak dapat bertanya, mengapa menjadi korban. Sebab merekalah gelap, yang datang entah darimana, dan entah untuk apa.

Di tepi jurang jeritan bergema. Ada yang memerkosa kehidupan dan membenamkannya dalam gelap. Kita tak bisa lagi menangis ataupun mengutuki gelap, kalau lilin ini padam dan korek api tak bisa lagi menyala. Angin kencang sekali, membawa bau-bauan sigung dan suara kematian. Mari merapatkan kebaikan. Hidupkan hati dan cinta. Nyalakan terang untuk jenasah perempuan di jurang, untuk setiap kehidupan yang dicuri, untuk setiap derita yang ditelan sunyi. Nyalakan perlawanan terhadap kejahatan.




Sabtu, 16 Januari 2016

Ada yang salah di sini




Ku seka mataku yang basah untuk kesekian kali
memandang Sarinah yang kemarin diserang bom dan tembakan.
Permukaan jalan masih bernoda darah mengerak
tidak terhapuskan oleh hujan semalam.
Ada yang salah di sini
entah diriku yang terlalu cengeng
atau orang-orang yang berfoto selfie di belakang peta tubuh korban ledakan
dan memasang status “kami tidak takut”.

Ku seka mataku yang basah lagi
di depan abang sate dan pedagang asongan
yang kemarin tetap berjualan di tengah serangan orang-orang jahat.
Tidak bisa lagi membedakan harumnya sate
dan bau mesiu bercampur korban yang hangus.
Ada yang salah di sini
dalam diri kita yang sudah terlalu banyak menyaksikan kekerasan, mengalami kejahatan,
sehingga kita tidak bisa lagi membedakan takut dan berani, berani dan sedih,
sehingga ada satu-dua orang yang hidupnya dihancurkan ketakutan sejak lama
sebelum mereka meledakkan dirinya untuk kesia-siaan.

Mataku basah terus sedari kemarin
di antara butiran-butiran doa yang bergulir satu persatu
buat bangsa kita.
Seandainya kita mau lebih banyak mengasihi
dan lebih banyak membawa damai.


Dedeh Supantini. 15 Januari 2016

Rabu, 14 Januari 2015

Sukacita adalah sebuah pilihan

Seorang kakek mendaftar untuk masuk ke panti wreda. Pengurus panti mengatakan kepada kakek tersebut, "Wah, tempat yang tersedia tinggal satu ruangan yang paling kecil di bagian paling belakang rumah ini. Kakek boleh melihatnya dulu sebelum memutuskan apakah kakek akan masuk ke sini atau mencari tempat lain". Kakek itu langsung menjawab: "Aku mengambil kamar tersebut. Aku menyukainya". Pengurus panti tersebut merasa bingung mendengar jawaban kakek dan ia bertanya dengan heran "Bagaimana kakek bisa menyukainya, bukankah kakek belum melihatnya?" Kakek itu tersenyum dan berkata "Memang aku belum melihatnya, tapi aku memutuskan untuk menyukainya bagaimanapun kondisi ruangan itu. Aku akan tinggal dengan sukacita di sini, sebab Tuhan selalu mendampingi di manapun aku berada".

Sukacita adalah sebuah pilihan yang diputuskan di awal. Kita bisa memutuskan untuk bersukacita dalam keadaan apapun, bila sukacita kita berasal dari Allah, sebab kasih Allah mengatasi segala kesulitan kita.

14 Jan 2015. From Dedeh S with  :)

Selasa, 23 Desember 2014

Ibu



Pertama: mama. Kami memanggil ibu kami dengan panggilan mama. Mama seorang pencerita yang handal. Waktu kami masih kecil, mama selalu bercerita sebelum kami tidur. Mulai dari dongeng kesukaan beliau sendiri tentang dongeng Cina kuno seperti legenda ular putih-ular hijau dan Sun Go Kong, sampai cerita bawang merah-bawang putih, Sangkuriang dan cerita rakyat Indonesia lainnya. Yang paling ku suka adalah cerita perjuangan masa kecilnya di jaman penjajahan Jepang dan perang kemerdekaan, sebab terdengar seru bagi seorang anak yang tidak paham apa arti kata “perang” dan “menderita dalam pengungsian”. Mama selalu menyisipkan pesan-pesan kearifan di akhir setiap ceritanya. Setelah aku memasuki masa remaja, mama lebih banyak bercerita saat menjemput kami pulang sekolah, mengisahkan perjuangan orang-orang di sekitarnya, dengan segala keberhasilan dan kegagalan mereka, juga beberapa cerita perjuangan mama sendiri dalam memahami dan memaafkan siapapun yang bersalah kepadanya.
Mama bukan seorang perawat atau dokter, namun beliau sangat cekatan memberi pertolongan pada karyawan papa yang terluka akibat kecelakaan kerja: mulai dari yang luka teriris pisau, sampai yang jarinya terpotong mesin. Aku kagum dengan ketenangannya saat memberi pertolongan pertama dan melarikan mereka ke Rumah Sakit. Ketika aku terkena musibah dan terluka, mama juga yang setiap malam mengoleskan obat untuk menyembuhkan luka-lukaku.
Dengan semua hal yang telah dilakukannya, mama selalu bernama cinta kasih. Melalui mama-lah aku pertama-tama mengalami cinta kasih Tuhan dan memahami indahnya memaafkan.
Kedua: mami. Suamiku memanggil ibunya dengan panggilan mami. Aku menyebutnya mami. Jarang aku menyebut beliau sebagai “mami mertuaku” ... sampai suatu saat ketika beliau dirawat di Rumah Sakit dan aku hendak menjenguknya, aku bertemu dengan seorang teman yang bertanya “Siapa yang sakit?” dan langsung kujawab “mamiku” ... lalu ternyata sorenya beberapa orang menelponku menanyakan: sakit apakah mama, ibu kandungku. Sejak itu aku merasa perlu menjelaskan “mamiku, mertuaku”.
Mami seorang pencerita yang handal juga. Mami selalu bercerita dengan gayanya yang lucu dan polos. Kami bisa tertawa terbahak-bahak mendengar ceritanya, sebab beliau kadang mengakhiri ceritanya dengan menertawakan diri sendiri dan tawa terbahak-bahak. Kadang-kadang mami bercerita dengan mata berkaca-kaca juga, saat mengisahkan jatuh bangun dan perjuangan hidup keluarganya. Kata akhir dalam setiap ceritanya selalu berbunyi “Tuhan baik sekali”. Salah satu hal yang senang beliau ceritakan adalah kisah anak-anaknya yang begitu dibanggakan. Sekali-sekali,  baik kepada teman lama atau kenalan baru,  beliau  menceritakan rahasia kecil kami bahwa aku dan suamiku saling jatuh cinta di masa ABG, dan akhirnya dipersatukan oleh Tuhan setelah kami dewasa. Dan aku selalu tersipu-sipu dan terharu ketika membayangkan bahwa mami sudah mengenalku sebelum kami bertemu, dan bahwa aku sudah mengasihi mami sebelum kami bertemu juga, yaitu saat aku dalam perjuangan menghadapi kesukaran dan beliau menitipkan kalimat yang membesarkan hatiku “inti hidup kita adalah untuk dikasihi Tuhan”. 
Dengan semua yang telah dilakukannya, (almarhum) mami selalu kukenang sebagai cinta yang membawa kabar sukacita bahwa “Tuhan mengasihi kita”. 
     Selalu: aku sendiri masih belajar menjadi ibu. Dari mama aku belajar untuk  sabar dan tekun, belajar merefleksikan dan memaknai kisah-kisah hidup, lalu memetik kearifan dari setiap peristiwa. Aku juga belajar untuk memaafkan dan mengerti pentingnya menyembuhkan luka-luka. Dari mami aku belajar untuk menertawakan kelucuan dari kegagalanku, dan menghadapi setiap kesukaran sebagai saat untuk memahami bahwa “Tuhan mengasihi kita”. Tetapi aku belajar banyak dari anak-anakku untuk menjadi seorang ibu bagi mereka. Sampai sekarang dan seterusnya aku masih belajar ... semoga aku bisa menjadi seorang ibu yang bernama cinta kasih, dan menjadi seorang ibu yang menginspirasi seperti mama dan mami.

Selamat hari ibu, mama dan mami, I love you. 

DH.22 Des 2014

Selasa, 25 November 2014

Hanya rindu



Di penghujung musim ini
kudengar suara-Mu memanggil hatiku begitu kuat,
entah ke mana hendak Kau pinta.
Sudah kulacak jejak-Mu di tiap jalan setapak dan penjuru angin
dengan keraguan seorang pengembara yang mencari arah,
membaca setiap petunjuk  
yang ternyata membawa kembali
ke tempat awal di mana kuterima perjalanan ini.

Hampir menyerah, aku berbaring di hamparan rumput hijau 
                                                            yang sedang musim berbunga,
di antara harum bunga kecubung
yang semilir
menghapuskan aroma kegalauan yang disisakan malam
“ke mana aku Kau bawa, Tuhan?
aku sedikit gamang, tak bisa menangkap arah yang harus kutuju”


(... ini aku, Tuhan ...)

Pagi masih muda
ketika tiba-tiba saja Engkau menyapaku
di bawah  pohon besar yang lengannya hampir menyentuh awan
sedang sinar matahari menghangatkan diriku yang berselimut embun pagi
Engkau berbisik lewat hembusan angin yang memelukku dari segala penjuru,
“datanglah kepada-Ku”
Lalu kupandang Dikau dalam bunga-bunga rumput
yang mengalasi dan menopang diriku begitu lembut begitu kuat
dan kubertanya entah untuk kesekian kali 
“Tuhan, apa yang Kau kehendaki untuk aku lakukan dengan perjalanan ini?”

Di tepi kolam pagi itu
Engkau menjawab lewat terpaan bunga rumput yang membelai wajahku
“beristirahatlah pada-Ku”.
Sedang hatiku masih bertanya,
di langit bersih berwarna biru muda 
seekor burung kecil melintas sambil berkicau riang,
dan aku luruh
ketika Engkau memanggilku lagi dalam segala keindahan pagi
“kemarilah, beristirahatlah pada-Ku. Aku hanya rindu”.